Selasa, 27 Oktober 2009

BAB V BUSINESS PLAN

BAB V

BUSINESS PLAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari materi mengenai Business Plan ini diharapkan:

1. Memahami konsep-konsep Marketing Plan dan strategi pemasaran yang mencakup marketing mix dan konsep AIDA + S untuk selanjutnya dapat diimplementasikan di dunia bisnis yang bertujuan untuk memberi kepuasan pada konsumen dan memberi keuntungan pada perusahaan.

2. Memahami bagaimana siklus kehidupan perkembangan produk dan bagaiman strategi yang dapat diterapkan dalam setiap tahap perkembangan produk.

B. POKOK BAHASAN

1. Marketing Plan

Sebelum menyusun marketing plan, maka wirausaha harus mengetahui seluk beluk atau konsep-konsep pemasaran dan segala informasi telah dikumpulkan maka seorang wirausaha maru menulis marketing plannya.

Untuk menyusun marketing plan maka perlu dijawab tiga pertanyaan berikut:

a) Where have we been?

b) Where do we want to go?

c) How do we get there?

Pertanyaan diatas perlu diidentifikasi dan dijawab dari mana kita berangkat? Untuk itu harus diperhatikan latar belakang perusahaan, kekuatan dan kelemahan perusahaan, bagaimana keadaan pesaing, serta bagaimana peluang dan kendala yang dihadapi. Kemudian kemana arah yang dituju? Disini perlu ditetapkan sasaran marketing untuk masa yang akan datang.

Apa yang dimaksud dengan marketing plan? The marketing plan includes a situation analysis that in large part comprises a market opportunity analysis and an assessment of the existing or potential businesses’ strength, weaknesses, threats, and opportunities in the market place. (Bygrave, 1994)

Marketing plan ini merupakan bagian dari business plan. Perencanaan yang harus disiapkan seperti dijelaskan oleh bygrave adalah analisa situasi perusahaan dan lingkungannya analisa dan penilaian peluang, kekuatan, kelemahan, kendala yang dihadapi pasar. Juga harus digambarkan sasaran konsumen dan strategi pemasaran yang digunakan. Jadi, inti dari kegiatan marketing plan adalah:

1) Analisa situasi lingkungan dan peluang pasar

2) Mengembangkan sasaran pemasaran

3) Menetapkan stategi pemasaran

4) Menciptakan taktik atau tindakan pelaksanaan

Karakteristik dari suatu marketing plan yang baik harus memenuhi beberapa criteria yaitu:

1) Harus didasarkan pada fakta dan asumsi yang benar tentang siapa target market, dimana lokasi mereka, berapa besar kemungkinan daya serapnya.

2) Bagaimana teknik promosi yang efektif

3) Bagaiman perubahan harga di pasar

4) Bagaimana saluran distribusi

5) Bagaimana keadaan saingan.

6) Bagaimana SWOT dari perusahaan

7) Siapkan sumber-sumber yang diperlukan seperti: sumber daya manusia, keuangan, fasilitas perawatan dan sebagainya.

Seperti diketahui bahwa pemasaran merupakan kegiatan yang amat penting dalam operasional suatu bisnis. Tidak peduli apakah bisnis itu bergerak dalam sektor industri kecil, tingkat menengah, apalagi industry besar.

Berikut adalah perkembangan beberapa konsep pemasaran:

a. Orientasi Pada Produk (Product Concept)

Pada saat barang masih langka dipasar, maka produsen memusatkan perhatian pada teknis pembuatan produk saja. Produsen belum memperhatikan selera konsumen, produsen hanya membuat barang dengan to please oneself, hanya menuruti bagaimana selera produsen sendiri. Produsen hanya melihat ke cermin, tidak melihat jendela. Orang melihat cermin hanya memperhatikan wajahnya saja, yaitu orang membuat produk yang cocok dengan kemauannya. Lain halnya melihat jendela, berarti melihat orang yang berada diluar/di jalan, produsen memperhatikan orang lain.

Mengapa kaum produsen menganut product concept ini? Karena produsen mendasarkan pemikirannya pada premis-premis berikut:

a) Konsumen akan lebih memperhatikan mutu berbagai barang sebelum mereka membeli.

b) Konsumen mengetahui perbedaan mutu berbagai macam barang.

c) Konsumen selalu mencari barang dengan mutu baik.

d) Produsen harus selalau menjaga mutu untuk mempertahankan langganan.

b. Orientasi Penjualan (Selling Concept)

Di sini produsen membuat barang, kemudian harus menjual barang itu, dengan berbagai teknik promosi. Hal yang penting disini adalah adanya kegiatan promosi secara maksimal. Paham dari konsep ini ialah, konsumen pasti akan mau membeli barang, bila mereka dirangsang untuk membeli. Promosi besar-besaran adalah merupakan ciri khas dari selling concept.

Premis yang mendasari konsep penjualan ini ialah:

a) Konsumen cenderung menolak membeli barang yang tidak penting oleh karena itu mereka harus didorong untuk membeli.

b) Konsumen dapat dipengaruhi oleh stimulasi promosi.

c) Tugas produsen ialah mendorong penjulan.

c. Orientasi Pasar (Marketing Concept)

Di sini produsen tidak sekedar membuat barang, tidak pula asal melancarkan promosi. Akan tetapi, produsen memusatkan perhatian pada selera konsumen, produsen memperhatikan needs and wants dari konsumen. Dalam hal ini produsen tidak lagi melihat cermin tetapi dia melihat jendela. Dengan melihat jendela berarti dia memperhatikan orang yang berada diluar bagaimana gerak-gerik, perilaku dan kebiasaan-kebiasaan, selera konsumen. Jadi produsen tidak hanya memperhatikan kebutuhan konsumen, tetapi juga memperhatikan apa keinginan konsumen. Konsumen tidak hanya sekedar membeli fisik barang, tetapi yang mengharapkan sesuatu dari barang itu, ini yang disebut dengan wants, yairu ada sesuatu yang diharapkan setelah membeli barang tersebut. Jika ini dapat dipuaskan, maka kegiatan marketing perusahaan akan mencapai sukses.

Premis yang mendasari konsep pemasaran ini ialah:

a) Konsumen selalu memilih barang yang dapat memuaskan needs dan wants nya.

b) Konsumen dapat dikelompokan berdasar needs dan wants nya.

c) Tugas organisasi ialah meneliti dan menetapkan segmentasi dan memilih pasar serta mengembangkan program pemasaran yang efektif.

Keinginan produsen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dalam arti ingin memberi kepuasan dapat dibaca dari semboyan promosi yang dilancarkan oleh produsen yang berbunyi antara lain:

1. Kepuasan anda dambaan kami.

2. Jika anda puas beri tahu teman, jika anda tidak puas beritahu kami.

3. Semboyan kami adalah kepuasan langganan.

4. Kami ada karena anda.

d. Orientasi Pada responsibility atau Pemasaran Berwawasan Sosial

Tingkat orientasi pada rasa tanggung jawab sosial dan kemanusiaan. Karena banyaknya kritik dan sorotan dari luar perusahaan, baik yang datang dari pemerintah, maupun dari masyarakat melalui lembaga konsumen, maka perusahaan harus mempunyai rasa tanggung jawab moral, untuk melayani masyarakat sebaik-baiknya. Tanggung jawab sosial ini dalam arti luas, harus menghasilkan barang yang baik tidak merusak kesehatan masyarakat. Menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab, selalau menjaga kebersihan air dan kebersihan udara dari ancaman polusi, mengurangi kebisingan oleh mesin pabrik. Semua ini harus dalam rangka menciptakan suasana kehidupan yang baik dan tentram dengan penuh rasa tanggung jawab tidak mementingkan keuntungan perusahaan semata.

Premis yang mendasari pemikiran produsen untuk mengembangkan responsibility ini ialah:

a) Gejala konsumerisme (gejala protes dari konsumen terhadap ketidakpuasan yang dilakukan oleh produsen atau oleh penjual) akan muncul apabila masyarakat memperoleh barang yang tidak baik dan mendapat layanan kurang memuaskan.

b) Masyarakat selalu menuntut tanggung jawab organisasi, begitu mereka mendapat perlakuan yang kurang baik dan bila ekosistem mereka terganggu.

c) Anggota masyarakat selalu menghendaki jaminan keselamatan terutama terhadap komoditi yang mereka beli.

Pada tingkat ke-4 ini menajemen pemasaran , harus memusatkan kegiatannya pada bagaimana menciptakan, dan menawarkan barang untuk perbaikan mutu kehidupan, bukan hanya sekedar menawarkan barang yang memenuhi selera konsumen.

Dalam hal ini seakan-akan terdapat dua hal yang berbeda kepentingannya, yaitu: keinginan produsen untuk memenuhi selera konsumen yang beraneka ragam di suatu pihak, dan dilain pihak ingin menjaga kelestarian lingkungan. Beberapa contoh dapat dilihat penggunaan sampul-sampul plastik yang praktis, enteng, indah yang sangat disenangi oleh konsumen akan tetapi sangat mencemari lingkungan. Barang-barang plastik tidak dapat hancur dialam terbuka sehingga menyebabkan penumpukan sampah yang dapat merusak kesuburan tanah, menyumbat resapan air atau menyumbat saluran air sehingga menyebabkan banjir. Juga makanan fast food, yang rasanya enak, cepat saji, lezat, namun tidak sehat karena kandungan lemaknya tinggi. Industri minuman menggunakan botol-botol plastik sekali pakai. Padahal dulunya minuman menggunakan botol yang dapat digunakan beberapa kali pakai. Penggunaan botol plastik yang begitu banyak sangat mengotori lingkungan sekitarnya.

Contoh lain misalnya serbuk deterjen yang sangat digemari oleh ibu-ibu rumah tangga yang dapat mencuci lebih cepat dan lebih bersih. Akan tetapi, produk ini akan sangat mencemari aliran sungai yang dapat mematikan ikan-ikan di dalam sungai. Juga serbuk ini berbau sangat busuk kalau direndam beberapa malam.

Kemudian ada pula usaha dari produsen untuk mengumpulkan kembali botol-botol atau kaleng-kaleng bekas minuman dengan membelinya dari para pemulung, akan tetapi pelaksanaannya kurang efektif. Namun disini tampak ada perhatian para produsen bertanggung jawab dalam melestarikan lingkungan. Inilah yang dimaksudkan dengan The Societal Marketing Concept. Definisinya: The Societal Marketing Concept holds that the organization’s task is to determine the needs, wants, and interest of target markets and to deliver the desired satisfaction more effectively and afficiently than competitors in a way that preserves enhances the consumer’s and the society’s well-being. (Philip Kotler, 1997:27)

Artinya konsep marketing yang berwawasan sosial adalah konsep yang berusaha memenuhi kebutuhan keinginan dan minat konsumen sehingga dapat memenuhi kepuasan konsumen secara efisien dan efektif dan membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

2. Konsep AIDA + S

Di dalam setiap kegiatan bisnis harus diusahakan agar wirausahawan memperhatikan konsep AIDA + S yaitu (Attention, Interest, Desire, Action, dan Satisfaction). Konsep ini berlaku untuk setiap kegiatan bisnis yang dapat menarik hati konsumen.

Pertamakali kosumen dihubungi dengan perusahaan tertentu muncul lebih dulu perhatian (Attention) misalnya pada saat konsumen lewat didepan toko. Kemudian konsumen tersebut timbul minatnya (Interest), lalu dia masuk kedalam sebuah toko. Setelah masuk kedalam toko dia mencari pelayan dan minta diambilkan barang yang dia inginkan. Ini berarti keinginannya (Desire) makin meningkat. Kemudian dia menanyakan berapa harganya, lalu tawar menawar, cocok harga, langsung dibayar di kasir (Action). Setelah barang dibawa pulang ke rumah lalu digunakan, maka akan muncul dua kemungkinan yaitu puas atau tidak puas.

3. Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran adalah memilih dan menganalisa pasar sasaran yang merupakan suatu kelompok orang yang ingin dicapai oleh perusahaan dan menciptakan suatu bauran pemasaran yang cocok dan dapat memuaskan pasar sasaran tersebut.

Perusahaan perlu menetapkan strategi dasar atau di sebut Grand strategy atau strategi inti. Jika Grand strategy ini sudah benar maka diharapkan perusahaan akan berhasil mencapai sasaran tersebut. Diharapkan perusahaan akan menguasai market share yang luas ataupun market position yang mantap. Market share atau pangsa pasar artinya penguasaan luas pasar. Sedangkan market position ialah kedudukan yang kokoh dari suatu produk pada suatu pasar.

Dalam menyusun strategi pemasaran ada dua variabel utama yang perlu dipertimbangkan, yaitu varibel yang dapat dikontrol dan variabel yang tidak dapat dikontrol oleh pengusaha.

1) Variabel yang dapat dikontrol

Variabel yang dapat dikontrol oleh wirausaha diantaranya adalah market segmentation, market budget, timing dan marketing mix.

a) Market segmentation

Disini pengusaha harus menetapkan strategi arah sasaran dari pemasarannya. Apakah sasaran pemasarannya ditujukan keseluruh lapisan masyarakat konsumen, atau hanya menetapkan segmen pasar tertentu saja.

Segmentasi Pasar adalah proses pemisahan pasar potensial kedalam bentuk sekelompok konsumen dengan karakteristik atau kebutuhan yang relatif sama dan memilih satu segmen atau lebih untuk dijadikan sasaran dengan suatu bauran pemasaran.

Segmentasi dilakukan atas dasar asumsi adanya kebutuhan yang serupa pada sekelompok orang atas dasar ciri letak / tempat (geografis), ciri demografis (usia, penghasilan, jenis kelamin) atau ciri sifat/ perilaku (psikografis / behavioral). Pada perkembangan seianjutnya, kesamaan kebutuhan ini juga dijadikan unsur segmentasi (benefit segmentation), misalnya pengelompokan konsumen berdasarkan kesamaan kebutuhan akan aroma, kenyamanan, kualitas, dsb.

Dengan adanya segmentasi pasar, maka kegiatan pemasaran dapat dikonsentrasikan pada satu fokus sasaran yang disebut sebagai Pasar Sasaran (Target Market).

Target Market adalah sekelompok orang yang dijadikan sasaran pemasaran produk karena memiliki kebutuhan yang (diasumsikan) sama terhadap suatu produk. Pasar sasaran inilah yang menjadi dasar penyusunan strategi pemasaran, baik dari segi strategi produk, harga, distribusi maupun promosi (marketing mix).

Perumusan pasar sasaran dalam segmentasi pasar dapat dilakukan atas dasar kriteria wilayah pasar sasaran (kriteria geografis) seperti :

ukuran kota, kepadatan wilayah, dan sebagainya, kriteria kependudukan (kriteria demografis)

usia, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan dan sebagainya, kriteria kejiwaan (kriteria psikografis)

gaya hidup, kepribadian, kriteria perilaku penggunaan produk (kriteria behavioral) dan berbagai kriteria lainnya,

kriteria manfaat yang dicari konsumen dalam memilih / mengkonsumsi produk (benefit segmentation).

Pendekatan Psikografis dalam Segmentasi Pasar

Penggunaan pendekatan psikografis dalam segmentasi pasar banyak dilakukan oleh para praktisi pemasaran. khususnya di era tahun 90 an ini. Pada umumnya mereka menganggap bahwa segmentasi pasar berdasarkan kriteria geografis dan demografis saja tidak cukup untuk menggambarkan pasar secara tepat.

Seringkali kedua kriteria tersebut hanya memilah pasar tetapi tidak cukup terinci sehingga walaupun pasar sudah terseleksi dan relatif homogen dari segi wilayah dan ciri-ciri fisik dan kependudukan (usia, jenis kelamin, pendidikan dan penghasilan) didalamnya masih terdapat banyak sifat, kepribadian dan kecenderungan berperilaku yang masih sangat beragam.

Hal ini dapat menyebabkan pilihan merk, produk dan keputusan membeli yang sangat beragam pada satu segmen. Oleh karena itu, diperlukan penekanan pada kriteria psikografis agar segmentasi pasar lebih terfokus dan tepat. Di Amerika Serikat, penggunaan kriteria psikografis ini dikenal sebagai kriteria nilai-nilai dan gaya hidup (Value and Life Style / VALS). ,

Segmentasi yang sangat memandang penting kriteria psikografis ini mendasarkan pendapatnya pada beberapa asumsi sebagai berikut :

1. Konsumen dibeda-bedakan berdasarkan sifat-sifat kepribadian, tingkat sosial ekonomi, sikap dan motivasi.

2. Perilaku konsumsi yang dilakukan mencerminkan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri (citra diri)

3. Kriteria-kriteria psikografis akan mempertajam segmentasi demografi.

4. Perilaku konsumsi tercermin dalam gaya hidup dan kepribadian pada tiga aspek : aktivitas, minat dan opini.

Dimensi-dimensi Gaya Hidup

Aktivitas

Minat

Opini

Bekerja

Hobi

Kegiatan Sosial

Berlibur

Menghibur diri

Keanggotaan Klib

Komunitas

Berbelanja

Olah raga

Keluarga

Rumah

Pekerjaan

Komunikasi

Rekreasi

Fashion

Makanan

Media

Prestasi

Diri Mereka

Isu-isu Sosial

Politik

Bisnis

Ekonomi

Pendidikan

Produk

Masa Depan

Budaya

Sumber : Rhenald Kasali, Membidik Pasar Indonesi, 1998

Segmentasi berdasarkan Manfaat / Benefit Segmentation (Haley 1968)

Pada pola segmentasi ini, pasar diseleksi berdasarkan kriteria manfaat apa yang dicari oleh kelompok-kelompok konsumen tertentu ketika membeli suatu produk. Pembagian / pelapisan pasar tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sensory Segmen

Segmen yang membeli karena memperoleh benefit dari rasa dan penampilan produk.

2. The Sociables

Segmen yang mernbeli karena pasta gigi . ini menjadikan gigi putih.

3. The Worriers

Segmen yang mencari pasta gigi yang dapat mencegah kerusakan gigi.

4. The Independents

Segment yang mencari pasta gigi yang harganya paling murah

Segmentasi berdasarkan Pemakaian Produk (tingkat konsumsi)

Pada pola segmentasi ini, pasar dipilah. berdasarkan tingkat / volume konsumsi yang dilakukan oleh masing-masing kelompok konsumen dalam menggunakan / mengkonsumsi produk.

Pola ini biasanya diterapkan untuk kategori produk konsumsi/produk yang habis dipakai, seperti misalnya makanan, rokok, dsb.

Kategori tingkat konsumsinya adalah sebagai berikut :

1. Pemakai berat / Pecandu (Heavy User)

2. Pemakai rata-rata / sedang (Medium User) .

3. Pemakai ringan (Light User)

Segmentasi berdasarkan Generasi/Cohort (Kasali,1996)

Pada pola ini, pemilahan segmen pasar didasarkan pada era / generasi yang dialami oleh masing-masing kelompok dalam masyarakat. Asumsinya, setiap era memiliki pola konsurnsi yang berbeda baik dari segi pemilihan jenis produk yang dikonsumsi maupuan cara penggunaannya.

Kedua hal ini tentunya akan berpengaruh pada pilihan merk dan proses keputusan membeli. Contoh : Segmentasi yang dilakukan oleh perusahaan rekaman dalam memilih lagu untuk dijadikan album selalu mengikuti selera penggemar lagu yang mengikuti era / generasi, seperti generasi Rock & Roll, Disco, Breakdance, Rap, dst.

Segmentasi berdasarkan generasi tersebut adalah :

1. Generasi Kemerdekaan (kelahiran 1921- 1935)

2. Generasi Tritura (1936- 1950)

3. Generasi Perang Dingin (1951-1960)

4. Generasi Komputer (1961-1970)

5. Generasi Internet (sesudah 1970)

Segmentasi berdasarkan Teknografi

Pada pola ini, segmentasi pasar dilakukan berdasarkan kriteria orientasi dan sikap seseorang / konsumen terhadap teknologi, dengan pengelompokan sebagai berikut :

1. Kelompok yang berorientasi pada keluarga

Tradisionalis, mengutamakan produk hiburan (VCR, VCD, DVI }

Neo-heartminder, lebih sensitif terhadap teknologi (komputer)

· Kelompok yang berorientasi karir

Fast-forward, profesional sibuk

Techno-striver (konsumen masa depan, tapi belum cukup uang)

• Hand shakers (menyerahkan pemakaian teknologi kepada staf / pembantu)

3. Kelompok yang berorientasi status

Cyber snob, penggemar teknologi baru

X-tech, penggemar teknologi baru tapi uangnya pas-pasan

Country Clubber, cenderung ikut-ikutan

4. Kelompok yang berorientasi hiburan

Mouse potatoes,mereka yang haus hiburan

Gadget Grabers, mereka yang uangnya pas-pasan

Media junkies, mereka yang tidak sabar tetapi senang yang sederhana

5. Kelompok diluar keempat kelompok di atas (Sidelined Citizen)

Mereka yang kurang tertarik pada teknologi dan kurang percaya bahwa teknologi dapat menyejahterakan mereka.

Segmentasi berdasarkan Loyalitas Merk

Segmentasi berdasarkan loyalitas dapat dilihat dari pola urutan pemilihan merk yang dibeli konsumen dalam suatu rentang waktu tertentu.

Tipe Loyalitas Pola pemilihan Merk

1. Undivided Loyalty (AAAAAA)

2. Divided Loyalty (ABABAB)

3. Unstable Loyalty (AAABBB)

4. No Loyalty (ABCDEF)

Segmentasi berdasarkan Evolusi Keluaraa (Gary Becker)

Segmentasi ini mendasarkan pembagian pasar berdasarkan evolusi kehldupan keluarga mulai dan terbentuknya keluarga hingga konsekuensi lanjutannya (membentuk keluarga besar dan kemungkinan adanya keluarga dengan orang tua tunggal (single parent family). Dampak kriteria tersebut adalah pada pola pembelian, khususnya pada volume konsumsi.

1. Keluarga Besar (Extended Family)

Konsurmi cenderung besar (dari segi jenis produk dan volume)

2. Keluarga Inti (Nuclear Family)

Konsumsi tidak besar (jenis produk sedikit dan volume sedang)

3. Keluarga dengan Orangtua Tunggal (Single Parent Family)

Konsumsi sangat kecil (jenis produk sedikit dan volume kecil)

Berorientasi pada kualitas

Kurang peka terhadap harga

8 Segmen Perilaku Gaya Hidup masyarakat Perkotaan Indonesia (Surindo Utama)

Pola pembentukan segmen pasar dilakukan berdasarkan asumsi bahwa sifat kepribadian seseorang akan membentuk kecenderungan pada pemilihan jenis dan merk produk yang dikonsumsinya.

Berdasarkan kriteria segmentasi psikografis, masyarakat perkotaan di Indonesia dapat dibagi menjadi 8 segmen sebagai berikut :

1. The Affluent (15%) .

Pekerja keras, memiliki rasa percaya diri kuat, menyukai inovasi, proaktif, berani mengambil resiko, cenderung terbuka dan mampu mempengaruhi orang lain.

2. The Achievers (14%)

Memiliki ketrampilan memimpin, mengkonsumsi produk secara fungsional, tak suka diperhatikan orang lain, keputusan membeli rasional

3. The anxious (6%)

Bersikap follower, ambisius, percaya diri dalam mengambil keputusan tetapi kurang keberanlan, perlu saran & doongan dalam mengambil keputusan, mudah dibujuk dengan hal-hal rasional

4. The Loners (10%)

Cenderung menyendiri, kurang berani tampil, individualistik.

5. The Socialite (11%)

• Senang bergaul, berani bertindak dan mengambil resiko, cenderung ingin menguasai orang lain dan senang menonjol.

6. The Pusher (6 %)

Tidak ingin diperhatikan tetapi ingin mendominasi segala sesuatu tanpa arah, senang mengontrol orang lain, tidak mudah menerima hal-hal baru.

7. The Attention Seeker (17 %)

Cenderung ingin menarik perhatian, membeli produk agar diperhatikan orang lain, impulsif, irasional dan mudah dibujuk secara emosional.

8. Pleasure Seeker (20 %)

Cenderung ingin mencapai sesuatu tanpa kerja keras, kurang senang besosialisasi, individualistic, tekun mengikuti trend, berprinsip kuat dan tidak menghendaki perubahan.

b) Market budget

Strategi penetapan jumlah dana untuk kegiatan marketing sangat mempengaruhi keberhasilan pemasaran. Pada umumnya, bila dana bertambah untuk kegiatan marketing maka jumlah penjualan meningkat. Namun tidak selalu demikian, bahwa peningkatan dana kegiatan marketing tidak otomatis akan meningkatkan jumlah penjualan.

Berapa besarnya jumlah anggaran belanja marketing. Sangat tergantung pada barang yang dipasarkan, dan sesuai dengan pengalaman pengusaha. Umumnya untuk barang-barang lux akan lebih banyak anggaran belanja pemasaran dibandingkan dengan barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, ikan daging dan sebagainya. Barang-barang lux akan lebih banyak anggaran belanja pemasaran, untuk biaya promosi, berupa iklan di surat kabar, radio, spanduk, poster, hadiah dan sebagainya. Juga biaya personal selling untuk melayani konsumen yang besarnya dapat mencapai 50-60% harga jual.

c) Timing

Disini para pengusaha harus menjaga waktu, kapan ia harus mulai melancarkan pemasaran barang-barangnya, atau kapan sebuah toko atau restoran buka. Dengan menjaga ketepatan waktu ini, maka perusahaan akan mendapat keuntungan berlipat ganda, disamping keuntungan berupa materi, juga keuntungan berupa pengalaman, dan cepat dikenal konsumen.

d) Marketing mix

Marketing mix berarti bauran pemasaran yaitu kegiatan mengkombinasikan berbaagai kegiatan marketing agar dicapai kombinasi maksimal dan hasil yang memuaskan. Ada empat elemen yang tercakup dalam bauran pemasaranini yang dikenal dengan 4P, yaitu Product, Price, Place, Promotion.

2) Variabel yang tidak dapat dikontrol

Variabel yang tidak dapat dikontrol oleh pengusaha diantaranya:

a) Keadaan persaingan

Adalah sulit bagi seorang pengusaha meramalkan kapan akan muncul saingan baru dalam produk yang sama. Oleh sebab itu pengusaha tidak boleh lengah dan slalu harus berusaha memperbaiki produk atau pelayanan usahanya agar tidak tersingkir oleh saingan baru.

b) Perkembangan teknologi

Kapan akan muncul teknologi baru yang membuat proses produksi lebih efisien dan lebih bagus juga sulit diduga. Untuk mengatasi hal ini pengusaha harus mencoba menggunakan teknologi baru lebih cepat dari saingannya.

c) Perubahan demografi

Kecenderungan perubahan penduduk juga sulit diantisipasi karena data perubahan penduduk ini sulit diperoleh. Walaupun sebenarnya untuk generasi yang akan datang bisa juga dilihat kecenderungan perkembangannya berdasarkan usia generasi anak-anak saat ini.

d) Kebijaksanaan politik dan ekonomi pemerintah

Perubahan-perubahan peraturan pemerintah juga sulit diantisipasi oleh para pengusaha. Terutama yang menyangkut masalah kredit bank naik turunnya suku bunga perubahan politik luar negeri, penggantian pejabat dan sebagainya.

e) Sumber daya alam

Adalah sulit kapan meramalkan kapan sumber daya alamakan habis atau kapan ditemukan sumber daya alam yang baru. Walaupun variabel-variabel diatas dianggap sebagai variabel yang tidak dapat diawasi, namun dalam beberapa aspek sebenarnya bisa diramalkan atau dirasakan oleh pengusaha berdasarkan pengalaman-pengalamannya dalam dunia bisnis ini.

4. Marketing Mix (Bauran Pemasaran)

Marketing mix harus selalu dapat bersifat dinamis, selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal maupun internal. Faktor eksternal yaitu faktor diluar jangkauan perusahaan yang antara lain terdiri dari pesaing, teknologi, peraturan pemerintah, keadaan perekonomian, dan lingkungan sosial budaya. Sedangkan faktor internal adalah variabel-variabel yang terdapat dalam marketing mix yakni : Product (produk), Price (Harga), Place (Tempat), dan Promotion. Slide powerpoint presentasi yang sangat bagus mengenai marketing strategy dapat

Pengertian marketing mix menurut Philip Kotler dalam bukunya yang berjudul Principles of Marketing, adalah : “Marketing mix is the set of marketing foola that the firm uses to pursite its marketing objectives in the target market”.

Sedangkan, pengertian marketing mix menurut William J. Stanston, dalam bukunya yang bertajuk Fundamentals of Marketing, adalah : “Marketing mix is the term that is used to described the combination of the four inputs that constitute the core of an organization’s marketing system. These four elements are the product offering, the price structure, the promotion activities, and the distribution system”.

Dari definisi-definisi diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa marketing mix merupakan kombinasi dan empat variabel yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan seefektif mungkin.

Variabel-variabel tersebut dapat dikelompokkan menajdi empat kelompok utama yang dikenal dengan 7 p’s yaitu :Product (Produk), Price (Harga), Promotion (Promosi), Place (Tempat), People (Karyawan), Physical Evidence (Bukti Fisik), dan process.

Secara garis besar ketujuh variabel tersebut dapat dijelaskan melalui penjelasan masing-masing sebagai berikut :

P1. Product (Produk)

Definisi produk menurut Philip Kotler adalah : “A product is a thing that can be offered to a market to satisfy a want or need” . Produk adalah sesuatu yang bisa ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, pembelian, pemakaian, atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan.

P2. Price (Harga)

Definisi harga menurut Philip Kotler adalah : “price is the amount of money charged for a product or service. More broadly, price is the sum of all the value that consumers exchange for the benefits of having or using the product or service”. Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa. Secara lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk atau jasa.

Sedangkan Stanton mendefinisikan harga: “Price is the amount of money and or goods needed to acquire some combination of another goods and its companying services”. Pengertian di atas mengandung arti bahwa harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi dari barang yang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Harga merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu-satunya elemen yang menghasilkan pendapatan dari penjualan.

Perusahaan menetapkan suatu harga dengan melakukan pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi satu atau lebih diantara tiga perangkat perimbangan berikut ini yakni:

1. Cost-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya)

(a) Cost-Plus-Pricing (Penetapan harga biaya plus)

Metode ini merupakan metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk.
(b) Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran).

Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even atau membuat target laba yang akan dicari.

2. Value-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai)

Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga.

3. Competition-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan persaingan)
(a) Going-rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku)

Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dan pesaing utamanya.

(b) Scaled-Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup)

Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan.

P3. Promotion (Promosi)

Definisi menurut Stanton adalah :“Promotion mix is the combination of operasional selling, sales person, public relation. These are the promotional tools that help an organization to achieve its marketing objective”. Sedangkan menurut Kotler yang dimaksud dengan promosi adalah : “Promotion includes all the activities the company undertakes to communicate and promote its product the target market”.

Menurut Philip Kotler promotion tools didefinisikan sebagai berikut :

1. Advertising (Periklanan)

Suatu promosi barang atau jasa yang sifatnya non personal dilakukan oleh sponsor yang diketahui.

2. Personal selling (Penjualan perorangan)

Penjualan perorangan yang dilakukan oleh para wiraniaga yang mencoba dan membujuk untuk melakukan penjualan sekaligus.

3. Sales promotion (Promosi penjualan)

Suatu kegiatan yang dimaksud untuk membantu mendapatkan konsumen yang bersedia membeli produk atau jasa suatu perusahaan.

4. Public relation (Publisitas)

Suatu kegiatan pengiklanan secara tidak langsung dimana produk atau jasa suatu perusahaan disebarluaskan oleh media komunikasi.

P4. Place (Tempat atau distribusi)

Definisi menurut Philip Kotler mengenai distribusi adalah : “The various the company undertakes to make the product accessible and available to target customer”. Berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah diperoleh dan tersedia untuk konsumen sasaran.

Keputusan penentuan lokasi dan saluran yang digunakan untuk memberikan jasa kepada pelanggan melibatkan pemikiran tentang bagaimana cara mengirimkan atau menyampaikan jasa kepada pelanggan dan dimana hal tersebut akan dilakukan. Ini harus dipertimbangkan karena dalam bidang jasa sering kali tidak dapat ditentukan tempat dimana akan diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Saluran distribusi dapat dilihat sebagai kumpulan organisasi yang saling bergantungan satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan sebuah produk/pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Penyampaian dalam perusahaan jasa harus dapat mencari agen dan lokasi untuk menjangkau populasi yang tersebar luas.

Sebagai salah satu variabel marketing mix, place / distribusi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu perusahaan memastikan produknya, karena tujuan dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.

P5. People

Adalah unsur orang/manusia yang melayani terutama dalam perusahaan yang menjual jasa. Termasuk unsur pimpinan yang mengambil keputusan. Dan unsur karyawan yang melayani konsumen. Karyawan ini perlu diberi pengarahan dan pelatihan agar dapat melayani konsumen sebaik-baiknya.

P6. Physical Evidence

Adalah bukti fisik yang dimiliki oleh perusahaan jasa. Misalnya untuk penjualan jasa transportasi, konsumen akan memperhatikan kondisi mobil yang digunakan, untuk jasa hotel akan melihat tampilan hotel, kamar dan berbagai fasilitas didalamnya.

P7. Process

Yaitu bagaimana proses dilakukan sampai jasa yang diminta oleh konsumen diterima secara memuaskan

Ketujuh P ini perlu kombinasi yang sesuai dengan keadaan komoditi yang diusahakan. Kombinasi mana yang digunakan, sangat tergantung pada keahlian tim marketing, dengan mempertimbangkan komoditi, pimpinan serta pengalaman masa lalu.

5. Perkembangan Produk

Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan . Segala sesuatu yang termasuk ke dalamnya adalah barang berwujud, jasa, events, tempat, organisasi, ide atau pun kombinasi antara hal-hal yang baru saja disebutkan. Siswanto Sutojo mengemukakan bahwa (2005:78)ada beberapa faktor penting yang wajib diperhatikan perusahaan dalam menyusun strategi produk mereka.

Faktor pertama adalah strategi pemilihan segmen pasar yang pernah mereka tentukan sebelumnya. Adapun faktor kedua adalah pengertian tentng hakekat produk di mata pembeli. Faktor ketiga adalah strategi produk pada tingkat kombinasi produk secara individual, pada tingkat seri produk dan pada tingkat kombinasi produk secara keseluruhan. Adapun faktor keempat adalah titik berat strategi pemasaran pada tiap tahap siklus kehidupan produk.

Berdasarkan fungsinya produk dibedakan menjadi tiga level. Level pertama adalah core product yaitu suatu produk yang fungsinya merupakan alasan dasar konsumen untuk membelinya. Contoh sederhana dari core product adalah pakaian, fungsinya dasarnya untuk melindungi tubuh manusia. Actual product adalah fitur-fitur yang ada pada produk untuk menambah nilainya. Misal desain yang menarik, nama merk, dan kemasan. Augmented product adalah tambahan manfaat-manfaat yang tidak terpikirkan oleh konsumen tapi akan memberi kepuasan bagi mereka, seperti garansi.

Produk juga digolongkan berdasarkan tujuan konsumen membeli barang secara umum. Produk yang dibeli oleh konsumen untuk kepentingan sendiri disebut consumer product. Produk yang dibeli oleh konsumen untuk kepentingan organisasi atau bisnisnya disebut business atau industria product. Produk bisnis bisa dikatakan sebagai produk yang dibeli untuk dijual lagi.

Consumer product dibedakan menjadi empat yaitu : convinience product,shopping product, dan specialty product. Convinience product adalah produk yang sering dibeli langsung, harganya rendah, biasanya kegiatan promosi dilakukan melalui mass advertising. Shopping product adalah produk sekunder yang harganya lebih mahal daripada convenience product. Produk jenis ini digunakan untuk memenuhi kkebutuhan sekunder manusia. Dalam proses pembeliannya, orang memerlukan waktu untuk membandingkan baik dengan cara survey maupun tes. Unsought product adalah produk yang sering tidak terpikir untuk dibeli konsumen, contohnya asuransi, tanah kuburan, dan ensiklopedi.

Barang industrial dibagi menjadi tiga golongan yaitu bahan baku dan bahan pembantu, bahan pendukung, dan barang modal. Dari berbagai faktor yang diperhatikan perusahaan dalam menyusun strategi produk tingkat produk individual, tiga diantaranya perlu mendapat perhatian khusus. Ketiga faktor tersebut adalah atribut produk, penggunaan merek dagang, dan kemasan .

Sebagian besar perusahaan menghasilkan lebih dari satu seri produk. Tiap seri produk. Tiap seri produk seringkali terdiri lebih dari satu jenis produk. Sayangnya tidak semua seri dan jenis produk memberikan sumbangan hasil penjualan dan keuntungan yang sama.Oleh karena itu, pengelolaan tiap seri dan jenis produk juga tidak sama. Kapasitas produk menyumbang keuntungan ditentukan oleh jumlah satuan produk yang terjual tiap masa tertentu dan besarnya contribution margin. Contribution margin adalah selisih antara harga jual per satuan produk dan biaya variabelnya .

Karena berbagai macam alasan perusahaan dapat memutuskan memperluas usaha bisnisnya. Upaya perluasan bisnis tersebut dapt dilakukan dengan memproduksi produk baru dengan mutu, bentuk, ukuran dan harga yang lebih rendah dari produk lama. Strategi menambah jenis produk baru seperti ini disebut downward stretching yaitu memproduksi produk yang mutu, bentuk dan harganya lebih tinggi dari produk lama. Di samping itu perusahaan juga dapat memperluas usahanya dengan jalan product line-filling, yaitu menambah jenis produk bau pada seri-seri produk yang sudah berjalan .

Hal lain yang wajib diperhatikan perusahaan dalam menyusun produk adalah adanya kenyataan bahwa setiap jenis produk mempunyai siklus kehidupan yang terdiri dari empat tahap. Keempat, tahap pertumbuhan, tahap kematangan dan tahap penurunan. Masing-masing tahap siklus kehidupan produk memerlukan strategi pemasaran yang berbeda.

Siklus kehidupan produk berarti tahapan kehidupan produk mulai sejak produk diciptakan, diperkenalkan sampai produk tersebut mengalami kejenuhan.

Siklus kehidupan produk terdiri atas lima tingkatan:

1) Tahap introduksi (Introduction)

2) Tahap pengembangan (growth)

3) Tahap kematangan (maturity)

4) Tahap menurun (decline)

5) Tahap ditinggalkan (abandonment)

Jangka waktu tiap tahap ini berbeda-beda pada setiap macam barang. Dapat diukur dengan mingguan, ataupun bulanan, tahunan atau puluhan tahun. Pada permulaan produk diperkenalkan kepasar, penjualan masih rendah karena pasar belum mengenal barang tersebut. Disini perlu dilancarkan promosi. Lebih rinci pada tahap introduksi ini dapat dilakukan strategi antara lain:

1) Berusaha selalu memperbaiki penampilan produknya

2) Menyebarkan barang sebanyak-banyaknya keseluruh toko diseluruh daerah

3) Dilakukan sell-out dengan cara melancarkan promosi di mass media secara gencar.

Kemudian setelah konsumen kenal maka akan banyak orang membeli, pasaran makin luas, omzet meningkat cepat sekali (growth). Dalam keadaan ini, pengusaha harus menyebarluaskan barang-barangnya, dan mengisi semua toko yang mungkin dapat menjual produknya. Strategi yang digunakan dalam masa pertumbuhan ini adalah:

1) Usahakan terus mencari segmen baru, menambah jumlah tenaga penjual, menambah armada pengangkutan.

2) Selalu memperbaiki mutu produk dengan penampilan dan kualitas prima

3) Pertimbangkan strategi menurunkan harga untuk barang-barang yang harganya tinggi.

Namun kemudian pasar menjadi jenuh dan timbul masa maturity. Konsumen mulai merasa bosan, dan menunggu produk baru lagi. Dalam keadaan ini strategi dapat dilancarkan:

1) Berusaha mencari segmen-segmen kecil yang belum terisi dengan harapan dapat menarik konsumen baru.

2) Menciptakan produk dengan kemasan besar sehingga jumlah penjualan tetap meningkat.

3) Memperbaiki penampilan produk dengan sesuatu yang baru.

Jika strategi ini tidak berhasil maka akan timbul masa penurunan (decline), omzet penjualan mulai menurun. Strategi yang digunakan dalam masa decline adalah:

1) Jika gejalanya sudah parah anggaran promosi distop

2) Pusatkan perhatian pada pasar yang masih ada harapan sedangkan pasar lainnya ditinggalkan.

3) Strategi terakhir ialah menghentikan pasaran produk secara menyeluruh dan menciptakan produk baru untuk memulai masa introduksi kembali.

C. KESIMPULAN

Ruang Lingkup Marketing Plan

Marketing plan merupakan bagian dari business plan. Menurut Bygrave, perencanaan pemasaran ini harus melakukan penganalisaan terhadap situasi perusahaan danlingkungannya, analisa dan penilaian peluang, kekuatan, kelemahan, kendala yang dihadapi juga gambaran sasaran konsumen dan strategi pemasaran yang digunakan. Inti utama dari pelaksanaan marketing plan ini adalah:

1. Analisa siatuasi lingkungan dan peluang pasar

2. Mengembangkan sasaran pemasaran

3. Menetapkan strategi pemasaran

4. Menciptakan taktik atau tindakan pelaksanaan

Kriteria marketing plan yang baik adalah :

1. Berdasarkan fakta dan asumsi yang benar

2. Teknik promosi yang efektif

3. Respon perubahan harga di pasar

4. Jaringan saluran distribusi

5. Keadaan persaingan yang sehat

6. S W O T perusahaan yang baik

7. Sumberdaya yang memadai

Konsep A I D A + S

Adapun konsep AIDA+S ini dapat diartikan sebagai berikut :

A = attention (perhatian)

I = Interest (tertarik)

D = Desire (keinginan)

A = Action (tindakan)

S = Satisfaction (kepuasan)

Konsep ini berlaku bagi usaha yang kegiatannya menarik konsumen.

Konsep Pemasaran Yang Harus Dilaksanakan

Konsep produk (Product Concept)

a. Orientasi pada produk (Product Orientations)

b. Orientasi penjualan (Selling Orientations)

c. Orientasi pasar (Market Orientations)

d. Orientasi tanggungjawab (Responsibilities Orientations)

Pendekatan Pemasaran

1. Commodity Approach (Pendekatan Komoditas)

2. Institutional Approach (Pendekatan Institusional)

3. Functional Approach (Pendekatan Fungsional)

Komoditi Yang Akan Dipasarkan

1. Barang konsumsi :

a. Barang konvinien

b. Barang Shopping

c. Barang spesial

d. Barang instan

2. Barang hasil bumi

3. Barang industri

4. Jasa

Strategi Pemasaran

Merupakan pola keputusan dalam perusahaan yang menentukan sasaran, maksud atau tujuan yang menghasilkan kebijaksanaan utama dan merencanakan untuk pencapaian tujuan serta merinci jangkauan bisnis yang akan dicapai.

Strategi pemasaran adalah memilih dan menganalisa pasar sasaran yang merupakan suatu kelompok orang yang ingin dicapai oleh perusahaan dan menciptakan suatu bauran pemasaran yang cocok dan yang dapat memuaskan pasar sasaran tersebut.

Ada dua variabel yang harus diperhatikan dalam menyusun strategi pemasaran, yaitu :

1. Variabel yang dapat dikontrol :

a. Segmentasi pasar

b. Anggaran pasar

c. Waktu

d. Bauran pemasaran

2. Variabel yang tidak dapat dikontrol :

a. Keadaan persaingan

b. Perkembangan teknologi

c. Perubahan demografi

d. Kebijakan politik dan ekonomi oleh pemerintah

e. Sumberdaya alam

Pengembangan Produk

Tujuan utama dari pengembangan produk adalah :

1. Memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen

2. Memenangkan persaingan

3. Meningkatkan volume penjualan

4. Memberdayakan sumber-sumber produksi

5. Mencegah kebosanan konsumen

Menyusun Marketing Plan

Format perencaan pemasaran pada setiap perusahaan tidak mesti sama, akan tetapi tergantung dari bentuk perusahaan yang akan melakukan pemasaran. Sebagai acuan, berikut contoh format marketing plan yang biasa digunakan :

1. Analisa situasi (SWOT) perusahaan

2. Tujuan pemasaran

3. Strategi inti/utama

4. Jadwal pelaksanaan

5. Anggaran pemasaran

6. Pengawasan/kontrol

D. CONTOH KASUS

Merasa prihatin dengan tingginya angka mortalitas bayi di akhir abad 19 di Swiss, Henri Nestlé, seorang ahli kimia Jerman yang berdomisili di Vevey,Swiss berhasil menciptakan makanan pendamping bagi bayi yang tidak mendapat cukup ASI. “Farine Lactee” berhasil menyelamatkan banyak jiwa bayi pada saat itu dan Nestlé pun mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Henri Nestlé kemudian memanfaatkan nama keluarganya menjadi logo perusahaannya. Dalam dialek Jerman Swiss, "Nestlé" berarti sarang burung kecil (little nest). Logo itu menjadi lambang rasa aman, kasih sayang, kekeluargaan dan tradisi.

Perusahaan Nestlé terus mengembangkan produk-produknya dan kemudian menjadi pelopor beberapa produk seperti susu kental di Eropa tahun 1905, susu coklat tahun 1929, kopi instant tahun 1938 dan lain-lain.

E. SOAL-SOAL

I. Pilihlah jawaban yang paling benar!

1. Strategi dasar dari perusahaan disebut?

a.Green Strategy c.Total Strategy

b.quality strategy d.Grand strategy*

2. Variabel yang dapat dikontrol oleh wirausaha diantaranya adalah sebagai berikut, kecuali?

a.Market Segmentation c.economic condition*

b.Timing d.market budget

3. Segmen yang membeli karena memperoleh benefit dari rasa dan penampila produk disebut?

a.Sensory segmen* c.the worries

b.the sociables d.the independent

4. Yang tidak termasuk dalam marketing mix adalah:

a.Price b.Promotion c.Place d.picture

5. Yang termasuk kedalam faktor eksternal dari marketing mix adalah…

a.peraturan pemerintah* c.iklim organisasi

b.kualitas SDM d.Kapasitas Produksi

II. Soal Benar atau Salah

1.

B - S

Marketing plan bukan merupakan bagian dari business plan.

2.

B - S

Promosi besar-besaran adalah merupakan ciri khas dari selling concept.

3.

B - S

Perusahaan perlu menetapkan strategi dasar atau di sebut Grand strategy

4.

B - S

market segmentation ialah kedudukan yang kokoh dari suatu produk pada suatu pasar.

5.

B - S

Segmentasi Pasar adalah proses pemisahan pasar potensial kedalam bentuk sekelompok konsumen

III. Jodohkanlah pernyataan di kolom sebelah kiri dengan kolom sebelah kanan!

(1). Segmentasi Pasar.

(a). proses pemisahan pasar potensial kedalam bentuk sekelompok konsumen

(2). Target Market.

(b). Segment yang mencari produk yang harganya paling murah

(3). The Worriers

(c).sekelompok orang yang dijadikan sasaran pemasaran produk karena memiliki kebutuhan yang (diasumsikan) sama terhadap suatu produk.

(4). The Independents.

(d). gejala protes dari konsumen terhadap ketidakpuasan yang dilakukan oleh produsen atau oleh penjual

(5). Konsumerisme.

(e). Segmen yang mencari produk yang efektif

IV. Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini!

1. Apa yang dimaksud dengan gejala konsumerisme?

2. Apa yang dimaksud dengan market target?

3. Apa yang dimaksud dengan segmentasi pasar?

4. Sebutkan bauran pemasaran 7P!

5. Apa kepanjangan dari konsep AIDA+S?

V. Uraian.

1. a.sebutkan inti kegiatan market plan!

b.sebutkan criteria yang harus dipenuhi dalam marketing plan!

2. a.sebutkan perkembangan beberapa konsep pemasaran

b.sebutkan premis yang mendasari konsep penjualan.

3. a. jelaskan Premis yang mendasari pemikiran produsen untuk mengembangkan responsibility

b.beri contoh!

4. a.jelaskan mengenai strategi pemasaran

5. a.variabel apa saja yang dapat dikontrol wirausaha?

b.variabel apa saja yang tidak dapat dikontrol wirausaha?

KUNCI JAWABAN

Soal pilihan ganda

1. d

2. c

3. a

4. d

5. a

Soal Benar – Salah

1. S

2. B

3. B

4. S

5. B

Soal Menjodohkan

1. A

2. C

3. E

4. B

5. D

Soal Essay

1. gejala protes dari konsumen terhadap ketidakpuasan yang dilakukan oleh produsen atau oleh penjual

2. sekelompok orang yang dijadikan sasaran pemasaran produk karena memiliki kebutuhan yang (diasumsikan) sama terhadap suatu produk.

3. proses pemisahan pasar potensial kedalam bentuk sekelompok konsumen

4. Price, place,product, promotion, people, physical evidence.

5. Attention, interest, desire, Action, satisfaction


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Alma, B. (2005). Kewirausahaan untuk mahasiswa dan umum. Bandung: CV Alfabeta.

Alma, B. (2001). Kewirausahaan untuk mahasiswa dan umum. Bandung: CV Alfabeta.

Alma, B. (2006). Pengantar Bisnis.Bandung: CV Alfabeta.

Kotler, P. (1998). Manajemen Pemasaran Edisi Bahasa Indonesia Jilid 2. Jakarta: PT. Prenhallindo.

Handoko, T. (1984). Dasar-Dasar Manajemen Operasi dan Produksi.Yogyakarta: BPFE.

________. (2009). Segmentasi Produk. [Online]. Tersedia: http://id.shvoong.com/ business-management/marketing/1911804-definisi-produk/. [9 Agustus 2009]

________. (2009). Kosep AIDA +S. [Online]. Tersedia: http://74.125.153.132/search?q=cache:jMi0_qbQEKkJ:pksm.mercubuana.ac.id/modul/99012-9 929123957861. doc+konsep+AIDA+S&cd=3& hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. [8Agustus 2009]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar