Senin, 26 Oktober 2009

Layanan BK di Sekolah Menengah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan berfikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya, telah mendorong terjadinya globalisasi. Situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mecapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk terus berfikir, meningkatkan kemampuan dan tidak puas terhadap apa yang dicapai pada saat ini. Adapun dampak negatif dari globalisasi tersebut adalah :

1. Keresahan hidup dikalangan masyarakat yang semakin meningkat karena banyaknya konflik, stress, kecemasan dan frustasi.

2. Adanya kecenderungan pelanggaran disiplin, kolusi dan korupsi makin sulit diterapkannya ukuran baik – jahat serta benar – salah secara lugas.

3. Adanya ambisi kelompok yang dapat menimbulkan konflik, tidak saja konflik psikis, tetapi juga kelompok fisik.

4. Pelarian dari masalah melalui jalan pintas yang bersifat sementara juga adiktif, seperti penggunaan obat – obatan terlarang.

Untuk menangkal dan mengatasi masalah tersebut perlu dipersiapkan insan dan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu, yaitu manusia yang harmonis lahir batin, sehat jasmani dan rohani, bermoral, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara perfesional, serta dinamis dan kreatif hal ini sesuai dengan visi dan misi pendidikan nasional.

Pendukung utama bagi terciptanya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya dilakukan melalui transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus didukung oleh peningkatan profesionalitas dan sistem manajemen tenaga kependidikan serta pengembangan kemampuan peserta didik untuk menolong diri sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan demi pencapaian cita – citanya.

Kemampuan seperti ini tidak hanya meyangkut aspek akademis, tetapi menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai peserta didik. Berkaitan dengan pemikiran tersebut, tampak bahwa pendidikan yang bermutu di Sekolah Menengah adalah pendidikan yang mengantarkan peserta didik pada pencapaian standar akademis yang diharapkan dalam kondisi perkembangan diri yang sehat dan optimal.

Peserta didik di Sekolah menengah adalah para remaja yang memiliki karakteristik, kebutuhan, dan tugas – tugas perkembangan yang harus dipenuhinya. Pencapaian standar kemampuan profesional / akademis dan tugas – tugas perkembangan peserta didik memerlukan kerja sama yang harmonis antara para pengelola dan pelaksana manajemen pendidikan, pengajaran dan bimbingan sebab ketiganya merupakan bidang – bidang utama dalam pencapaian tujuan pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan makalah yang berjudul “Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah” ini adalah :

1. Apa fungsi dari layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah?

2. Tujuan apa yang hendak dicapai dari Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah menengah?

3. Bagaimana fokus layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah?

4. Bagaimana Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling yang di laksanakan di Sekolah Menengah?

5. Siapa saja Personil yag terlibat dalam kegiatan layanan Bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah yang berjudul “Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah” ini adalah :

1. Untuk mengetahui fungsi dari layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah.

2. Untuk mengetahui tujuan yang hendak dicapai dari Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah menengah.

3. Untuk mengetahui fokus layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah.

4. Untuk mengetahui strategi Layanan Bimbingan dan Konseling yang di laksanakan di Sekolah Menengah.

5. Untuk mengetahui personil yang terlibat dalam kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah.


BAB II

LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH

Pelaksanaan bimbingan dan konseling telah dirintis sejak tahun 1960-an dan dilaksanakan secara serempak di sekolah sejak tahun 1975, yaitu saat diberlakukannya kurikulum ’75. Pada saat itu istilah yang diperkenalkan dan dipergunakan adalah Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Istilah tersebut pada akhirnya memunculkan suatu sebutan bagi pelaksanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah dengan sebutan guru BP.

Perkembangan dunia bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami proses yang berliku, hingga pada tahun 1994, melalui kurikulum 1994, istilah Bimbingan dan Penyuluhan mulai diganti dengan istilah Bimbingan dan Konseling (BK). Perubahan mendasar dari istilah “penyuluhan” menjadi “konseling” didasari pada paradigma bahwa konselor tidak melakukan penyuluhan yang mempunyai konotasi sebagai pekerja lapangan (misal : penyuluh pertanian atau penyuluh KB), tetapi lebih pada usaha membantu Konseli/siswa sesuai dengan karakter siswa yang bersangkutan. Siswa lebih dihargai untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan demikian, istilah guru BP dirubah menjadi guru BK.

SK Menpan no. 84/1993 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, pada pasal (3) disebutkan bahwa tugas pokok guru pembimbing adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya.

Pada tahun 2003, terjadi perubahan mendasar terhadap pelaksana bimbingan dan konseling di Sekolah. Menurut Undang-undang nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat (4) dinyatakan bahwa Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor. Dengan demikian penggunaan istilah guru BK di lingkungan sekolah akan berubah menjadi konselor sekolah. Paradigma ini mengacu pada pelaksana konseling adalah konselor. Dengan kata lain bahwa konselor termasuk salah satu tenaga pendidik.

Bimbingan dan konseling di sekolah merupakan satu kesatuan (integral) dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah (Munandir:1993). Dengan kata lain bahwa pelaksanaan pendidikan atau pembelajaran di sekolah akan mempunyai ketergantungan yang timbal balik antara proses belajar klasikal di kelas dengan bantuan bimbingan dan konseling.

Kesatuan ini tampak dalam pelaksanaan pembelajaran di lapangan. Pembelajaran yang berorientasi kognitif secara umum telah dilakukan oleh guru bidang studi di kelas. Guru mata pelajaran memberikan bahan atau materi pembelajaran kepada siswa dengan penekanan-penekanan pada bidang kognitif. Peranan guru BK pada tahap ini adalah menyeimbangkan antara kekuatan kognitif dan afektif yang dimiliki siswa.

Seringkali kita temui bahwa siswa mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan segala bentuk tugas yang diberikan oleh guru bidang studi. Tetapi pada saat mereka dihadapkan untuk menentukan pilihan masa depan atau mengambil keputusan tentang masa depannya, mereka mengalami kesulitan yang luar biasa. Mereka dihadapkan pada banyak pilihan serta konflik-konflik batin. Pada saat inilah peranan guru BK akan tampak semakin nyata. Konselor sekolah akan membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul sesuai dengan karakteristik siswa yang bersangkutan.

Permasalahan yang dihadapi siswa tidak bisa diselesaikan dengan mempergunakan kekuatan kognitif atau logika berpikir semata. Seringkali permasalahan yang muncul adalah karena pertentangan emosi (afeksi) siswa. Sebagai contoh, masalah penjurusan tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat hasil kogitif siswa melalui nilai rapor, tetapi juga melihat kepribadian, minat, bakat dan keadaan lingkungan siswa tersebut. Di sini terlihat perspektrum yang semakin luas untuk dapat menyelesaikan masalah siswa secara tuntas.

A. Fungsi Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah

Pada dasarnya, bimbingan dan konseling dilakukan dalam bentuk upaya pemahaman, pencegahan, pemeliharaan dan penyembuhan. Setiap bentuk upaya tersebut mengacu kepada empat fungsi bimbingan yaitu :

1. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak – pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.

2. Fungsi penyaluran, yaitu membantu peserta didik dalam memilih jurusan sekolah, jenis sekolah, dan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat, dan ciri – ciri kepribadian lainnya. Kegiatan fungsi penyaluran ini meliputi bantuan untuk memantapkan kegiatan belajar di sekolah menengah. Dalam melaksanakan fungsi, guru pembimbing / konselor perlu bekerjasama dengan pendidik lainnya di sekolah menengah maupun di luar sekolah menengah.

3. Fungsi adaptasi, yaitu membantu petugas – petugas di sekolah khususnya guru, untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik. Dengan menggunakan informasi yang memadai para peserta didik, guru pembimbing / konselor dapat membantu guru untuk memperlakukan peserta didik secara tepat, baik dalam mengelola memilih materi pelajaran yang tepat dalam mengadaptasikan bahan pelajaran kepada kecepatan dan kemampuan peserta didik.

4. Fungsi penyesuaian, yaitu membantu peserta didik untuk memperoleh penyesuaian pribadi dan memperoleh kemajua dalam perkembangannya secara optimal. Fungsi ini dilaksanakan dalam rangka mengidentifikasi, memahami, dan memecahkan masalah.

Sesuai dengan fungsiya, bimbingan dan konseling diarahkan kepada terselenggaranya dan terpenuhinya keperluan akan bantuan dalam hal pendataan, informasi dan orientasi, konsultasi, dan komunikasi kepada peserta didik dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Dengan demikian akan terciptanya kemudahan bagi terselenggaranya proses dan tercapainya tujuan program pendidikan di Sekolah Menengah yang bersangkutan dengan lancar dan berhasil seperti yang diharapkan.

B. Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah

Bimbingan dan konseling yang berkembang saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling adalah edukatif, pengembangan, dan outreach. Edukatif, karena titik berat kepedulian bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan pengembangan, bukan pada korektif atau terapeutik, walaupun hal itu tetap ada dalam kepedulian bimbingan dan konseling perkembangan. Pengembangan, karena titik sentral tujuan bimbingan dan konseling terletak pada perkembangan optimal dan strategi, dengan upaya pokok memberikan kemudahan perkembangan individu melalui perekayasaan lingkunngan perkembangan. Outreach, karena target populasi bimbingan dan konseling tidak terbatas kepada individu bermasalah dan dilakukan secara individual tetapi meliputi ragam dimensi dalam rentang yang cukup lebar. Dengan demikian tujuan umum bimbingan dan konseling adalah:

1. Memahami, menerima, mengarahkan, dan mengembangkan minat, bakat, serta kemampuan siswa seoptimal mungkin,

2. Menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, keluarga, sekolah dan masyarakat; serta

3. Merencanakan kehidupan masa depan siswa yang sesuai dengan tuntutan dunia pada saat ini ataupun masa yang akan datang.

Bimbingan dan konseling perkembangan di Sekolah menengah sebagai upaya pemberitahuan bantuan kepada peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya mereka dapat memahami dirinya sehingga mereka sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya. Secara khusus layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu para siswa mencapai tugas-tugas perkembangan, yaitu :

1. Mengembangkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Mengembangkan hubungan sosial yang mantap dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita, yaitu mampu bekerjasama dalam kelompok, menerima teman dari lawan jenis yang berbeda, dan tidak memaksakan kehendak pada kelompoknya.

3. Mengembangkan peran sosial pria untuk siswa pria atau peran perempuan untuk siswa perempuan sesuai dengan norma masyarakat yaitu mengetahui, memahami, menerima, mau dan mampu mengerjakan peran sosial pria atau wanita sesuai dengan norma masyarakat.

4. Menerima keadaan diri dan menerapkannya secara efektif, yaitu menerima keadaan fisik, bakat, memelihara fisik, mengembangkan bakat, serta menghargai keadaan dirinya (Self-esteem).

5. Memiliki sikap dan dan perilaku emosional yang mantap, yaitu tidak cepat putus asa, tidak manja, berani mengambil resiko, menyayangi orang tua setulus hati, dan menghormati guru secara ikhlas.

6. Mempersiapkan ke arah kemandirian ekonomi, yaitu penuh perhitungan dalam membeli sesuatu, berusaha untuk menabung, membantu pekerjaan orang tua, berusaha agar studi tepat waktunya, memilih kegiatan ekstrakulikuler yang nantinya dapat menghasilkan nafkah.

7. Memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, yaitu mampu memilih jurusan yang sesuai dengan cita – cita pekerjaannya, mampu memilih kegiatan ekstrakulikuler, memahami program studi yang ada di perguruan tinggi, memahami jenis kursus, serta memahmi syarat – syarat yang sesuai dan diperlukan untuk pekerjaan yang dicita – citakannya.

8. Memiliki sikap positif terhadap perkawinan dan hidup berkeluarga, yaitu menghargai perkawainan dan memahami hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga.

9. Memiliki keterampilan intelektual dan memahami konsep – konsep yang diperlukan untuk menjadi warga Negara yang baik, yaitu mampu membuat pilihan secara sehat, membuat keputusan secara efektif, dapat menyelsaikan konflik dan masalah, memahami konsep hokum, ekonomi, politik yang berlaku di negaranya.

10. Memiliki sikap dan perilaku sosial yang bertaggung jawab, yaitu berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial di sekolah dan masyarakat, menolong teman yang memerlukan bantuan, menyantuni fakir miskin dan menengok teman yang sakit.

11. Memahami nilai – nilai dan etika hidup bermasyarakat, yaitu sopan santun dalam bergaul, jujur dalam bertindak dan menghargai perasaan oranng lain.

C. Fokus Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah

Berdasarkan fungsi dan prinsip bimbingan, maka kerangka kerja layanan bimbingan dan konseling dalam suatu program bimbingan dan konseling yang dijabarkan dalam tiga kegiatan utama, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, dan layanan perencanaan individual.

1. Layanan Dasar Bimbingan

Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan meningkatkan keterampilan – keterampilan hidupnya. Layanan dasar bimbingan ini disajikan secara sistematis bagi seluruh siswa, yang isinya sesuai dengan tujuan bimbingan dan konseling yang telah dikemukakan di atas.

Layanan dasar bimbingan ini juga berisi layanan bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan pribadi dan bimbingan karir, layanan ini untuk seluruh peserta didik, disajikan atau di luncurkan dengan menggunakan Strategi klasikal dan dinamika kelompok.

2. Layanan Responsif

Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh siswa pada saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventif, atau mungkin kuratif. Isi layanan Responsif adalah sebagai berikut :

a. Bidang pendidikan, topik-topiknya adalah pemilihan program studi di sekolah menengah yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuann; dan pemilihan program studi lanjutan di perguruan tinggi.

b. Bidang belajar, yaitu cara belajar efektif dan cara mengatasi kesulitan belajar.

c. Bidang sosial, yaitu cara memilih teman yang baik, cara memelihara persahabatan yang baik, cara mengatasi konflik dengan teman.

d. Bidang pribadi, yaitu pembetukan identitas karier, pengenalan karakteristik dan lingkungan pekerjaan, dan pembentukan pola karier.

e. Bidang disiplin, yaitu pengenalan tata tertib sekolah dan pengembangan sikap serta perilaku disiplin.

f. Bidang narkotika, yaitu pengenalan bahaya penggunaan narkotika dan pencegahan terhadap bahaya narkotika.

g. Bidang perilaku seksual, yaitu penngenalan bahaya perilaku seks bebas, cara berpacaran yang baik, serta pencegahan perilaku seks bebas.

h. Bidang kehidupan lainnya.

3. Layanan perencanaan Individual

Layanan perencanaan individual adalah upaya bimbingan yang bertujuan membantu seluruh siswa membuat dan mengimplementasikan rencana – rencana pendidikan, karier, dan kehidupan sosial pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini adalah membantu siswa belajar memantau dan memahami perkembangannya sendiri, kemudian merencanakan dan mengimplementasikan rencana-rencana hidupnya atas dasar hasil pemantauan dan pemahamannya itu. Isi layanan perencanaan individual adalah sebagai berikut:

a. Bidang pendidikan yaitu perecanaan belajar dan perencanaan studi lanjutan.

b. Bidang karier, yaitu perecanaan pekerjaan, perencanaan jabatan, perncanaan pekerjaan ke perusahaan – perusahaan, dan perencanaan waktu luang untuk kegiatan yang produktif.

c. Bidang sosial pribadi yaitu perencanaan pengembangan konsep diri yang positif, serta perecanaan pengembangan keterampilan – keterampilan sosial yang tepat.

D. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling

Strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan dan sarana penunjang kegiatan. Strategi yang diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling disebut strategi layanan bimbingan dan konseling.

Strategi bimbingan dan konseling dapat berupa konseling individual, konsultasi, konseling kelompok dan pengajaran remedial.

1. Konseling Individual

Konseling Individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli (siswa). Konseli mengalami kesukaran pribadi yang tidak dapat ia pecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan konselor sebagai petugas yang profesionaldalam jabatannya dengan pengetahuan dan keterampilan psikologi. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, yang menghadapi kesukaran dalam masalah pendidikan, pekerjaan, dan sosial dimana ia tidak dapat memilih dan memutuskan sendiri. Oleh karena itu, konseling hanya ditujukan kepada individu – individu yang sudah menyadari kehidupan pribadinya.

Dalam konseling terdapat hubungan yang dinamis dan khusus, karena dalam interaksi tersebut, konseli merasa diterima dan dimengerti oleh konselor. Konseli merasa ada orang lain yang dapat mengerti masalah pribadinya dan mau membantu memecahkannya. Konselor dan konseli saling belajar dengan pengalaman hubungan yang bersifat khusus dan pribadi ini.

Dalam konseling diharapkan konseli dapat merubah sikap, keputusan diri sendiri sehingga ia dapat lebih baik menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memberikan kesejahteraan pada diri sendiri dan masyarakat sekitarnya.

2. Konsultasi

Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan yang penting, sebab banyak masalah karena sesuatu hal akan lebih berhasil.

Konsultasi dalam pengertian umum dipandang sebagai nasihat dari seorang yang professional. Pengertian Konsultasi dalam program bimbingan dipanadang sebagai suatu proses menyediakan bantuan teknis untuk guru, orang tua, administrator, dan konselor lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas peserta didik atau sekolah

3. Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri konseli. Isi kegiatannya terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran.

Penataan bimbingan kelompok pada umumnya berbentuk kelas yang beranggotakan 20 sampai 30 orang. Informasi yang diberikan dalam bimbingan kelompok itu terutama dimaksudkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman mengenai orang lain, sedangkan perubahan sikap merupakan tujuan yang tidak langsung.

4. Konseling Kelompok

Konseling kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada peserta didik dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Selain bersifat pencegahan, konseling kelompok dapat pula bersifat penyembuhan.

Konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis yag terpusat pada pemikiran dan perilaku yang sadar dan melibatkan fungsi – fungsi terapi seperti sifat permisif, orientasi pada kenyataan, katarsis, saling mempercayai, saling memperlakukan dengan mesra, saling pengertian, saling menerima dan mendukung. Fungsi – fungsi terapi itu dikembangkan dalam suatu kelompok kecil melalui cara saling memperdulikan diantara para peserta konseling kelompok

5. Pengajaran Remidial

Pengajaran remedial dapat didefinisikan sebagai upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok siswa tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan, dengan melalui suatu proses interaksi yang berencana, terorganisir, terarah, terkoordinasi, terkontrol dengan lebih memperhatikan taraf kesesuaiannya terhadap keragaman kondisi objektif individu atau kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungannya.

Pengajaran remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanana bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Secara skematik prosedur remedial tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

1) Diagnostik kesulitan belajr mengajar.

2) Rekomendasi / referral.

3) Penelaahan kembali kasus.

4) Pilihan alternatif tindakan.

5) Layanan konseling.

6) Pelaksanaan pengajaran remedial.

7) Pengukuran kembali hasil belajar mengajar.

8) Reevaluasi / Rediagnostik.

9) Tugas tambahan.

10) Hasil yang diharapkan.

Startegi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara preventif, kuratif jika dilakukan setelah program PBM utama selesai diselenggarakan. Pendekatan preventif ditujukan kepada siswa tertentu yang diperkirakan akan mengalami hambatan terhadap pelajaran yang akan ditempuhya. Pendekatan pengembangan merupakan tindak lanjut dari upaya diagnostic yang dilakukan guru selama berlangsung program PBM.

E. Personil Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah

Konselor, guru, administrator / kepala sekolah, orang tua siswa, siswa, semuaya berperan sebagai narasumber dalam program bimbingan. Konselor bertugas memberikan berbagai layanan dan mengkoordinasikan program bimbingan. Bekerjasama, serta mendukung peran guru dan administrator sekolah agar program bimbingan tersebut berhasil.

Adapun orang tua siswa dan anggota masyarakat dilibatkan dalam program bimbingan. Mereka masuk dalam komite atau dewan penasihat masyarakat sekolah yang bertugas memberikan rekomendasi, serta layanan dukungan terhadap konselor dan orang yang terlibat dalam program bimbingan.

Keterlibatan staf pengajar / guru adalah sangat penting. Oleh sebab itu guru harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan implementasi program. Konselor dan guru harus bekerja sama dalam merecanakan pelaksanaan program bimbingan. Kegiatan – kegiatan bimbingan disajikan dalam bidang materi yang tepat sehingga posisi guru tidak diganti oleh konselor dalam kelas.

Secara hukum, posisi konselor di Sekolah menengah telah ada sejak tahun 1975, yaitu sejak diberlakukannya kurikulum bimbingan dan konseling. Dalam sistem pendidikan di Indonesia konselor di Sekolah Menengah mendapat tempat yang cukup leluasa. Peran konselor sebagai komponen student support services, adalah men-support perkembangan aspek – aspek pribadi sosial, karir dan akademik siswa, melalui pengembangan menu program bimbingan dan konseling bantuan kepada siswa dalam individual student planning, pemberian layanan responsif, serta pengembangan sistem support. Pada jenjang ini konselor menjalankan semua fungsi bimbingan dan konseling, yang meliputi fungsi preventif, developmental, maupun fungsi kuratif.

BAB III

KESIMPULAN

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia menyebabkan terjadinya perubahan mendasar terhadap pelaksana bimbingan dan konseling di Sekolah. Bimbingan dan konseling di sekolah merupakan satu kesatuan (integral) dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah (Munandir:1993). Dalam proses pembelajaran di Sekolah, selain membutuhkan guru mata pelajaran dalam mengembangkan kemampuan kognitifnya, siswa juga membutuhkan konselor untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang tidak bisa diselesaikan menggunakan kemampuan kognitif sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Peranan guru BK( Bimbingan dan Konseling ) pada tahap ini adalah menyeimbangkan antara kekuatan kognitif dan afektif yang dimiliki siswa.

Pada dasarnya, bimbingan dan konseling dilakukan dalam bentuk upaya pemahaman, pencegahan, pemeliharaan dan penyembuhan. Dalam hal ini, Bimbingan mempunyai empat fungsi utama, yaitu fungsi pemahaman, fungsi penyaluran, fungsi adaptasi dan fungsi penyesuaian.

Bimbingan dan konseling perkembangan di Sekolah menengah pada dasarnya adalah membantu siswa agar mereka dapat memahami dirinya sehingga mereka sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya.

Layanan bimbingan dan konseling dalam suatu program bimbingan dan konseling yang dijabarkan dalam tiga kegiatan utama, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, dan layanan perencanaan individual. Sedangkan strategi bimbingan dan konseling dapat berupa konseling individual, konsultasi, konseling kelompok dan pengajaran remedial.

Konselor, guru, administrator / kepala sekolah, orang tua siswa, siswa, semuanya berperan sebagai narasumber dalam program bimbingan. Semua pihak yang terlibat dalam program bimbingan diharapkan dapat saling mendukung dan bertindak sesuai dengan proporsinya masing-masing. Agar program yang dilaksanakan dalam program bimbingan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.


DAFTAR PUSTAKA

Juntika, A. (2006). Bimbingan dan konseling dalam berbagai latar kehidupan. Bandung: PT Refika Aditama.

Juntika, Achmad. (2007). Strategi Layanan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT Refika Aditama.

Juntika, A. dan Sudianto, A. (2005). Manajemen Manajemen Bimbigan dan Konseling di SMA. Jakarta: Pt Gramedia Widiasarana Indonesia.

Kartadinata, S. dkk. (2007). Penataan Pendidikan Professional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Departemen Pendidikan nasional.

Soedarmadji, B. (2008). Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Pada Setting Sekolah. [Online]. Tersedia: http://karyaboy.blogspot.com/2008/09/bk-pada-setting-sekolah.html [28 Februari 2009]

1 komentar:

  1. wah kang iman euy,,
    inget q g,, adek tingkatmu,,hhehe
    *g pnting bgtz deh ;D

    bgus loh tulisannya,,
    punten y kang copy tulisannya buat tugas kul
    punten, mksh kang :)

    BalasHapus